ASAL MULA KOTA NGANJUK [ ANJUKLADANG ]

  

image

image

        Berikut penafsiran yang pernah dikemukakan oleh pakar epigrafi dan sejarah klasik Indonesia,Pro.Dr.J.G.de Casparis, 34 tahun yang lalu…. Pada tahun 928 atau 929 atau satu dua tahun kemudian pasukan Melayu ialah daerah Jambi yang patuh kepada Sriwijaya mendarat di Jawa Timur. Pasukan itu sampai dekat Nganjuk, tetapi disana menderita kekalahan oleh laskar Jawa yang dipimpin oleh Pu Sindok. Peristiwa yang penting itu kita ketahui dari sebuah prasasti Sindok yang berangka tahun 937 Prasasti itu mengenai sebatang tugu kemenangan (Jayastambha) bertempat di Anjuk Ladang, beberapa kilometer sebelah selatan kota Nganjuk yang sekarang.

image

         Peristiwa itu dapat menjelaskan dua soal yang sebelumnya tidak mendapat penyelesaian yang memuaskan. Yang pertama mengenai kedudukan Pu Sindok yang oleh penyelidik lebih dulu dianggap sebagai teka-teki. Maklumlah karena nama Sindok sudah kita temui dalam beberapa prasasti sebelum pemerintahannya sebagai seorang pegawai tinggi
(Rakai Halu dan Rakai Hino), tetapi tidak lazim di Jawa bahwa seorang prabu digantikan oleh menterinya.Akan tetapi pergantian luar biasa. Andaikata kita berpendapat bahwa Sindoklah yang menjadi penyelamat negara selaku panglima perang, maka dapat dimengerti bahwa tahta kemudian diserhkan kepadanya.Soal yang lain yang sekarang dapat dimengerti, ialah sebab perpindahan kraton ke Jawa Timur….Sekarang ternyata bahwa pemindahan itu dapat kita pahami sepenuhnya. Dalam taraf pertama raja-raja Mataram lama seperti Balitung sampai dengan Wawa, lebih mementingkan Jawa Timur daripada Jawa Tengah.Karena keinsyafan akan pentingnya perniagaan antar pulau. Dalam taraf yang kedua pemimpin2 Jawa memutuskan hanya akan membela bagian kerajaan yang dipentingkan itu. Lembah
rendah sungai barat dari itu termasuk Jawa Tengah dibiarkan saja” (J.G.Casparis, 1958).
Hipotesa yang menggambarkan Prasasti Anjuk
Ladang sebgaai suatu monumen kemenangan
terhadap serangan musuh secara langsung tidak didukung oleh prasasti itu sendiri. Apalagi jika
dikaitkan dengan jasa Pu Sindok sebagai penyelamat dan panglima perang, yang menjadikan ia
dipromosikan sebagai raja. Ketika Sindok memerintahkan untuk menetapkan Watek Anjuk Ladang sebagai desa Swantantra, dalam kalimat : “sawah kakatikan iyanjukladang tutugani tanda
swatantra”, sehingga desa itu bebas dari pajak, ia telah menjadi raja selama 8 tahun. Dengan kata lain jika memang terbukti sima anjuk ladang itu ada hubungannya dengan balas budi Sindok kepada
penduduk watek Anjuk Ladang, ketika masih memangku jabatan Rakai Mapatih atau rakai Halu
atau Hino, prasasti manakah yang memberikan keterangan tentang kemenangan terhadap musuh
Sriwijaya itu? Tampaknya prasasti Kinawe dari raja
Wawa (926-929) yang berasal dari daerah Berbek tidak memberi dukungan hipotesa tersebut. Suatu data yang tidak diragukan adalah adanya hubungan antara penetapan swatantra kepada
kepala desa (Rama) di Anjuk Ladang itu, dengan sebuah bangunan suci seorang tokoh yang cukup penting yaitu : bhatara I sang hyang prasada
kabaktyan I dharma sngat pu anjukladang atau sangat anjuk lading. Bangunan suci itu juga disebut :
sang prasada kabaktyan I sri jayamarta. Sima pumpunana bhatara (baris 6 dan 8).Sedangkan
bangunan tugu kemenangan terdapat dalam kalimat :
“sang hyang prasada ateherang jayastama.”
Dengan singkat dapat dikatakan bahwa nama desa Anjuk Ladang berkaitan dengan pejabat Watek, Rama
dan Samgat, serta bangunan suci Sri Jayamrata,barangkali sebuah Patirtan yang terletak tidak jauh dari Candi Lor sekarang.

image

          Ataukah bangunan yang disebut “sang hyang prasada kabaktyan I dharma samgat pu anjukladang” itu, pada abad X tidak lain Candi Lor sekarang. Di tempat candi itu berdiri terletak
desa Candirejo, di situlah tahun 1913, ditemukan sejumlah patung perunggu yang menggambarkan
pantheon Budhisme Mahayana, dari sekte yang khas mengungkapkan tradisi kerajaan setempat.Penemuan arkeologis di sekitar desa Candirejo tempat Candi Lor itu berdiri, membuktikan bahwa di tempat itulah pada
abad X merupakan Watek Anjuk Ladang, tempat berdirinya bangunan suci sang hyang prasada kabaktyan I anjukladang, yang tertulis dalam baris 27
prasasti Candi Lor itu. Nama itu hidup terus sejak 10 abad lalu dan dalam perjalanan sejarah tetap lestari meskipun dalam ucapan yang telah berubah. HARI JADI NGANJUK : 10 APRIL 937 Dari kajian yang terurai pada bagian muka, berikut ini diberikan beberapa tesis yang sekaligus merupakan kesimpulan untuk dijadikan landasan berpijak dalam
penentuan Hari Jadi Nganjuk.
1. Ada tiga sumber epigrafis yang ditemukan didaerah Kabupaten Nganjuk sekarang, yaitu :
Prasasti Kinawe dari Tanjung Kalang, Prasasti Hering
dari Kujon Manis, Warujayeng dan Prasasti Anjukladang dari desa Candirejo.Prasasti Kinawe merupakan sumber tertulis paling
tua yang ditemukan di daerah Kabupaten Nganjuk, yang memuat nama Sri Maharaja Wawa.Prasasti ini diumumkan bertepatan dengan tahun Masehi, hari Kamis Wage, bulan November 928. Walaupun prasasti ini termasuk sumber tertulis paling tua yang
dikeluarkan oleh ibunya Dyah Bingah, tidak memuat data yang dapat dihubungkan dengan sejarah pemerintah Kabupaten Nganjuk secara langsung.
Didalamnya memuat pembebasan Desa Kinawe dari
pungutan pajak, serta mendapat hak sebagai desa Sima Didalamnya juga memuat nama Pu Sindok Sri Isana Wikrama sebagai rakryan Mapatih, pada masa pemerintahan Sri Maharaja Wawa. Prasasti ini tidak mengungkapkan peranan Pu Sindok, sebagai panglima diisyaratkan dalam hipotesa Prof J.G.de Casparis (de Casparis, 1958). Atas dasar kenyataan itu
prasasti ini tidak dapat dijadikan landasan yang kuat untuk dipilih sebagai hari jadi Kabupaten Nganjuk.
2. Prasasti Hering, dari Kujon Manis daerah Warujayeng,Nganjuk timur. Prasasti ini dikeluarkan pada hari Kamis Wage, 22 Mei 934, oleh Sri Maharaja Pu Sindok Sri Isanawikrama Dharmmotunggadewa, berisi antara lain tentang jual beli tanah sawah.Dalam sumber tertulis inipun tidak menyebutkan toponimi yang secara langsung dapat dikaitkan dengan nama Nganjuk, baik sebagai nama wilayah maupun nama pusat pemerintahan yang berhubungan dengan Kabupaten Nganjuk sekarang.Nama Hering, Marganung, Kadangan, Hujung,
walaupun nama tersebut mungkin sama dengan keringan, Ganung , Kandangan dan Ngujung, namun
kurang memenuhi criteria sebagai sumber untuk
dijadikan dasar penemuan Hari Jadi Nganjuk.
3. Prasasti Anjuk Ladang, dari kompleks reruntuhan Candi Lor, desa Candirejo, merupakan sumber tertulis tertua yang memuat toponimi Anjukladang sebagai satuan territorial Watek, yang dikepalai seorang Samgat dan seorang Rama. Prasasti ini dikeluarkan oleh Sri Maharaja Pu Sindok Isanawikrama Dharmmotunggadewa, serta nama para pejabat tinggi kraton maupun pejabat daerah. Prasasti ini memuat desa Anjukladang yang dianugerahi status otonomi atau swantantra serta daerah yang Anjukladang
sebagai perdikan, dikaitkan dengan pemeliharaan
bangunan suci bernama: Sang Hyang Prasada Kabaktyan I Sri Jamrata I Anjuk Ladang Disamping
itu juga dikaitkan dengan suatu monumen kemenangan, berupa Jayastamba. Prasasti Candi Lor ini dibandingkan dengan prasasti
Kinawe dan Hering, lebih memiliki nilai histories dan
arkeologis, karena memuat nama desa Anjukladang,yang dalam perkembangan sejarah di daerah itu selama 10 abad masih tetap bertahan, walaupun  telah mengalami perubahan ucapan. Namun tidak dapat disangkal, bahwa ada kedekatan yang
menunjukkan kedekatan ucapan dengan nama Nganjuk.
Berdasarkan data epigrafis itu, tahun penetapan anugrah watek Anjukladang, sebagai desa swatantra
dapat dipilih untuk Hari Jadi Nganjuk. Menurut unsure penanggalannya, maka tanggal 12 bulan Citra,Krsnapaksa. HA PO SO, bertepatan dengan tahun
Masehi: 10 April 937. Itulah tanggal yang sesuai dan
layak sebagai Hari Jadi Nganjuk.
ASAL MULA NAMA NGANJUK Menurut cerita rakyat yang masih hidup di kalngan penduduk setempat, bahwa desa tempat didirikannya Candi Lor dahulu bernama Desa Nganjuk, yang berasal dari kata ANJUK. Tetapi setelah Nganjuk dipergunakan
untuk nama daerah yang lebih luas, maka nama desa
tersebut diubah namanya menhadi “Tanggungan”. Tanggungan berasal dari kata
“Ketanggungan” (Jawa:mertanggung). Istilah ini
mengandung makna, bahwa nama Nganjuk tanggung
untuk digunakan sebagai nama dari desa tersebut
karena sudah digunakan nama bagi daerah yang
lebih luas. Oleh karena itu sudah tidak berarti lagi (tanggung atau mertanggung) desa sekecil itu disebut
Nganjuk.
Mengenai arti dan makna dari kata : Anjuk Ladang,
Prof.Dr.J.G.de Casparis menjelaskan sebagai berikut :
Anjuk : Berarti tinggi, tempat yang tinggi atau dalam
arti simbolis adalah : mendapat kemenangan yang gilang gemilang.
Ladang : Berarti tanah atau daratan.
Dari latar belakang sejarah dapat diinterpretasikan
bahwa Nganjuk dahulu diambil dari nama sebuah
tempat atau desa : Anjuk Ladang. Kemudian, karena
memiliki nilai sejarah tentang kepahlawanan prajurit- prajurit dibawah kepemimpinan Pu Sindok dapat
menaklukkan bala tentara dari kerajaan Sriwijaya,
maka kemudian “Nganjuk” diabadikan sebagai nama
daerah/wilayah yang lebih luas dan tidak hanya
nama sebuah desa kecil, yakni Kabupaten Nganjuk
yang sekarang ini. Nganjuk yang diambil dari kata Anjuk berarti “Kemenangan dan Kejayaan”.
sumber :DARI SINI

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s